TUGAS


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Berlandaskan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional, berkewajiban menetapkan berbagai peraturan tentang standar penyelenggaraan pendidikan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Standar nasional pendidikan yang dimaksud meliputi: (1) standar isi, (2) standar kompetensi lulusan, (3) standar proses, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan.

Dalam pencapaian standar isi (SI) yang memuat standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang harus dicapai oleh peserta didik setelah melalui pembelajaran dalam jenjang dan waktu tertentu, sehingga pada gilirannya mencapai standar kompetensi lulusan (SKL) setelah menyelesaikan pembelajaran pada satuan pendidikan tertentu secara tuntas. Agar peserta didik dapat mencapai SK, KD, maupun SKL secara optimal, perlu didukung oleh berbagai standar lainnya dalam sebuah sistem yang utuh. Salah satu standar tersebut adalah standar proses.

PP nomor 19 tahun 2005 yang berkaitan dengan standar proses mengisyaratkan bahwa guru diharapkan dapat mengembangkan perencanaan pembelajaran, yang kemudian dipertegas malalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses, yang antara lain mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan bagi pendidik pada satuan pendidikan untuk mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), khususnya pada jenjang pendidikan dasar dan menengah jalur formal

Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Selain itu, pada lampiran Permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, juga diatur tentang berbagai kompetensi yang harus dimiliki oleh pendidik, baik yang bersifat kompetensi inti maupun kompetensi mata pelajaran. Bagi guru pada satuan pendidikan jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), baik dalam tuntutan kompetensi pedagogik maupun kompetensi profesional, berkaitan erat dengan kemampuan guru dalam mengembangkan perencanaan pembelajaran secara memadai.

Oleh karena itu, disamping sebagai implementasi dari Permendiknas nomor 25 tahun 2006 tentang Rincian Tugas Unit Kerja di Lingkungan Ditjen Mandikdasmen bahwa rincian tugas Subdirektorat Pembelajaran – Dit. PSMA (yang antara lain disebutkan bahwa melaksanakan penyiapan bahan penyusunan pedoman dan prosedur pelaksanaan pembelajaran, termasuk penyusunan pedoman pelaksanaan kurikulum) dipandang perlu menyusun panduan bagi guru SMA sehingga dapat dijadikan salah satu referensi dalam pengembangan RPP.

Dalam dunia pembelajaran itu sendiri banyak sekali kita jumpai konsep-konsep yang di pakai dalam pengambangan pembelajaran di sekolah,dengan tujuan agar setiap profesional pengajar mampu membuat disain atau perencanaan pengajaran sehingga sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran.oleh karena itu dalam makalah ini penulis akan sedikit menguraikan tentan urgensi pembelajaran yang terangkum dalam konsep-konsep perencanaan pembelajaran dn prinsip-prinsip pembelajaran.

 

 

 

 

PEMBAHASAN

Konsep Dasar Perencanaan Pengajaran

Kaufman mengatakan: perencanaan adalah suatu proyeksi tentang apa yang diperlukan dalam rangka mencapai tujuan absah dan bernilai. (Harjanto, 1997), Pengajaran adalah interaksi siswa dengan lingkungan belajar yang dirancang sedemikian rupa untuk mencapai tujuan pengajaran, yakni kemampuan yang diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya. ( Nana Sudjana: 1988)

Sedangkan munurut Philip Commbs, beliau mengatakan dalam arti yang luas, perencaaan pengajaran adalah suatu penerapan yang rasional dari analisis sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan agar pendidikan lebih efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan dan tujuan para murid dan masyarakatnya. ( harjanto, 1997)

Prof. dr. jusuf enoch mengatakan bahwa perencanaan pengajaran di Indonesia merupakan suatu proses penyusunan alternative kebijaksanaan mengatasi masalah yang akan dilaksanakan dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan pendidikan nasional dengan mempertimbangkan kenyataan-kenyataan yang ada di bidang sosial ekonomi, sosial budaya dan kebutuhan pembangunan secara menyeluruh terhadap pendidikan nasional.

Jadi Perencanan adalah sebuah proses yang periodic dan dilakukan untuk mencapai hasil tertentu, serta untuk membatasi perilaku-perilaku yang dapat dilakukan dalam proses hasil tertentu, Pembelajaran adalah sebuah proses perubahan atau mencapai kualitas ideal anak didik yang relative permanent melalui pengembangan potensi dan kemampuannya. Perencanaan pengajaran berarti pemikiran tentang penerapan prinsip- prinsip umum mengajar di dalam pelaksanaan tugas mengajar dalam suatu interaksi pengajaran tertentu yang khusus baik yang berlangsung di dalam kelas ataupun diluar.

Proses Perencanaan

Agar perencanaan yang komprehensif dapat diperoleh, maka seyogyanya dilaksanakan dalam 6 tahapan proses, yaitu:

Tahap pra-perencanaan. Tahapan ini menyangkut,

Menciptakan atau mengadakan badan atau bagian yang bertugas dalam melaksanakan fungsi perencanaan

Menetapkan prosedur perencanaan

Mengadakan reorganisasi structural internal administrasi agar dapat berpartisipasi dalam proses perencanaan serta proses implementasinya

Menetapkan mekanisme serta prosedur untuk mengumpulkan dan menganalisis data yang diperlukan dalam perencanaan

Tahap perencanaan awal, terdiri dari aktivitas-aktivitas:

Tahap diagnosis merupakan kegiatan membandingkan luaran atau output yang diharapkan dengan apa yang telah dicapai sekarang

Tahap formulasi rencana merupakan kebijakan yang memberikan arah kepada upaya memperbaiki kelemahan dan kekurangan suatu rencana

Penilaian kebutuhan, merupakan tindak lanjut sesudah kebijakan ditetapkan, agar dapat diketahui sumber manusia dan materi yang diperlukan untuk melaksanakan kebijakan yang ada

Perhitungan biaya, agar dapat diketahui jumlah keseluruhan biaya yang dibutuhkan untuk keseluruhan program

Penentuan target merupakan kegiata mengkaji dan meneliti kembali kebutuhan yang telah diidentifikasi, menetapkan prioritas program serta menetapkan tingkat pencapaian yang realistic dari tujuan yang ditetapkan

Tahap formulasi rencana,merupakan kegiatan menyiapkan dokumen-dokumen

Tahap elaborasi rencana, membuatu program dan identifikasi dan formulasi proyek

Tahap implementasi rencana merupakan saat proyek dilaksanakan

Tahap evaluasi dan perencanaan ulang:

Memberikan gambaran tentang kelemahan rencana

Sebagai bahan diagnosis dan bahan membuat perencanaan ulang

Jenis- jenis perencanaan

  1. Menurut Besaran :

Perencanaan Makro, yakni perencanaan yang mempunyai telaah nasional, yang menetapkan kebijakan-kebijakan yang akan ditempuh, tujuan yang ingin dicapai dan cara-cara yang dipakai dalam mencapai tujuan tersebut.

Perencanaan Meso, yakni kebijakan yang ditetapkan dalam perencanaan makro, kemudian dijabarkan lebih rinci kedalam program-program dalam dimensi yang lebih kecil.

Perencanaan Mikro, yakni perencanaan tingkat institusional, dan merupakan jabaran lebih spesifik dari perencanaan tingkat meso.

Menurut Telaahnya :

a. Perencanaan Strategi, yakni perencanaan yang berkaitan dengan penetapan tujuan, pengalokasian sumber-sumber dalam mencapai tujuan dan kebijakan yang dipakai sebagai pedoman.

b. Perencanaan Manajeri, yaitu perencanaan yang ditujukan untuk mengarahkan proses pelaksanaan agar tujuan dapat dicapai secara efektif dan efesien.

c. Perencanaan Operasional, yakni perencanaan yang memusatkan perhatian pada apa yang akan dikerjakan pada tingkat pelaksanaan di lapangan dari rencana manajerial

Menurut Jangka Waktunya :

a. Perencanaan Jangka Panjang yaitu perencanaan yang mencakup kurun waktu 10 sampai dengan 25 tahun.

b. Perencanaan Jangka Menengah yaitu rencana yang mencakup kurun waktu antara 4 sampai dengan 10 tahun

c. Perencanaan Jangka Pendek yaitu rencana yang mencakup kurun waktu antara 1 sampai dengan 3 tahun.

Pentingnya perencanaan pengajaran

Perencanaan pengajaran seharusnya dipandang sebagai suatu alat yang dapat membantu para pengelola pendidikan untuk lebih menjadi berdaya guna dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.

Perencanaan dapat menolong pencapaian suatu sasaran secara lebih ekonomis, tepat waktu dan member peluang untuk lebih mudah dikontrol dan dimonitor dalam pelaksanaannya.

Prinsip-prinsip Pembelajaran

Dalam melaksanakan proses belajar mengajar guru perlu memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran, diantaranya adalah:

Prinsip Perkembangan

Pada prinsipnya siswa yang sedang belajar di kelas berada dalam proses perkembangan, dan akan terus berkembang yang berarti perubahan. Kemampuan anak pada jenjang usia dan tingkat kelas berbeda-beda sesuai perkembangannya. Pada waktu memilih bahan dan metode mengajar guru hendaknya memperhatikan dan menyesuaikan dengan kemampuan anak. Guru hendaknya mengerti dan sabar dalam melaksanakan tugas pelayanan belajar bagi para siswanya, sebab perubahan ada yang cepat dan ada yang lambat, Sedangkan Menurut Prof. Dr. Nana Syaodih S Perkembangan individu berlangsung sepanjang hayat, dimulai sejak masa pertemuan sel ayah dengan ibu dan berakhir pada saat kematian.

Prinsip-Prinsip perkembangan berlangsung seumur hidup dan meliputi seluruh aspek, setiap individu memiliki kecepatan dan kualitas perkembangan yang berbeda
perkembangan secara relatif beraturan, mengikuti pola-pola tertentu, misalnya merangkak sebelum berjalan, meraban (bubling) sebelum bicara, dan sebagainya
perkembangan berlangsung secara berangsur-angsur sedikit demi sedikit
perkembangan berlangsung dari kemampuan yang bersifat umum menuju ke yang lebih khusus.

 

Prinsip Perbedaan Individu

Keefektifan belajar dipengaruhi oleh perbedaan individu termasuk perbedaan kognitif dan kecepatan belajar Menurut Prof. Dr. Nana Syaodih S.(1996), Seorang guru yang menghadapi 25 siswa di kelas, sebenarnya bukan hanya menghadapi ciri-ciri satu kelas siswa, melainkan juga menghadapi 25 perangkat ciri-ciri siswa. Tiap siswa memiliki ciri-ciri dan pembawaan yang berbeda, menerima pengaruh dan perlakuan dari keluarganya yang masing-masing juga berbeda. Ada siswa yang cekatan atau lambat, kecerdasan tinggi atau sedang, cerdas dalam pelajaran tertentu namun tidak di pelajaran lainnya, cenderung periang atau pemurung. Untuk dapat memberikan bantuan belajar bagi siswa, maka guru harus dapat memahami dengan benar ciri-ciri para siswanya tersebut, baik dalam menyiapkan dan menyajikan pelajaran maupun dalam memberikan tugas-tugas dan pembimbingan belajar siswa. Pada model pembelajaran klasikal, umumnya perbedaan individu siswa cenderung diabaikan, maka guru dapat menyempurnakan pembelajaran model klasikal dengan cara:

menggunakan metode atau strategi belajar mengajar dengan bervariasi yang diharapkan beberapa perbedaan kemampuan anak dapat terlayani

mengunakan alat dan media pengajaran agar dapat membantu siswa khususnya yang mempunyai kelemahan tertentu, misalnya anak dengan kemampuan berfikir abstrak kurang, dibantu dengan peraga yang kongkret, sedangkan anak dengan pendengaran kurang dibantu peraga dengan melibatkan kemampuan penglihatan

memberikan bahan pelajaran tambahan kepada anak-anak yang pandai untuk mengimbangi kepandaiannya (enrichment)

memberikan bantuan atau bimbingan khusus kepada anak-anak yang kurang pandai atau lambat belajar pada jam pelajaran maupun diluar jam pelajaran (remedial)

pemberian tugas disesuaikan dengan dengan minat dan kemampuan siswa

Prinsip Tujuan/Kompetensi

Belajar dimulai karena adanya sesuatu tujuan yang ingin dicapai. Tujuan itu muncul untuk memenuhi sesuatu kebutuhan. Pengajaran diarahkan kepada pencapaian sesuatu tujuan dan untuk memenuhi kebutuhan. Sesuatu perbuatan belajar akan efisien apabila terarah kepada tujuan yang jelas dan berarti bagi individu. Prinsip ini mengandung pengertian bahwa sebelum berlangsungnya proses pembelajaran guru perlu menyampaikan rumusan masalah yang hendak dipecahkan, perumusan pertanyaan yang hendak dijawab, atau perumusan tema yang hendak dibahas. Sehingga dalam kegiatan belajar, siswa dapat memperoleh gambaran tujuan yang hendak dicapai dan akan mempermudah siswa dalam memusatkan pelajaran

 

 

Prinsip Kesiapan

Menurut Thorndike, dalam buku Lestar Crow & Alice Crow (1985, hal 280), prinsip kesiapan (readiness) meliputi:

kalau suatu unit tindakan sudah siap untuk dilakukan, maka tindakan dengan unit tersebut akan menimbulkan kepuasan, dan tidak akan ada tindakan-tindakan yang lainnya lagi untuk mengubah tindakan tadi

kalau suatu unit tindakan sudah siap untuk dilakukan akan tetapi tidak dilakukan maka akan mengakibatkan ketidakpuasan dan akan menimbulkan respon-respon apapun yang bersifat alamiah untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasan tertentu

kalau suatu unit tindakan tidak siap dilakukan kemudian dipaksa untuk melakukannya, maka tindakan tersebut akan mengakibatkan ketidakpuasan, Untuk dapat melakukan kegiatan belajar dengan baik, anak perlu memiliki kesiapan, baik fisik maupun psikis yang berupa kematangan untuk melakukan sesuatu, maupun penguasaan pengetahuan dan kecakapan-kecakapan yang mendasarinya, Prinsip kesiapan termasuk juga kesiapan untuk berlansungnya proses pembelajaran, seperti kesiapan sumber belajar, fasilitas, waktu, tempat, harapan-harapan, dan perangkat informasi yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar.

 

Prinsip Aktivitas siswa

Prinsip ini mengandung pengertian bahwa dalam kegiatan belajar-mengajar diperlukan kreativitas dan kepekaan guru dalam mengembangkan potensi siswa untuk dapat mencari, menemukan dan mengembangkan fakta dan informasi sendiri atau dengan kata lain guru dapat memicu siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran. Sehingga siswa tidak merasa bosan dalam mengikuti proses belajar, siswa lebih percaya diri, gembira dan merasa puas dalam menyalurkan kemampuan dan hasil kerjanya, Guru hendaknya merencanakan pengajaran yang menuntut siswa melakukan aktifitas belajar, hal ini tidak berarti siswa dibebani banyak tugas. Metode yang yang banyak mengaktifkan siswa, diantaranya adalah: diskaveri, inkuiri, eksperimen, demonstrasi, pemecahan masalah, ketrampilan proses, penegasan dan diskusi

Prinsip Motivasi siswa

Motivasi tidak sama dengan motif, meskipun akar katanya sama yaitu ‘motivum’. Ada dua macam motif, motif internal yaitu tenaga pendorong dari dalam, dan motif eksternal yaitu tenaga pendorong dari luar diri (guru, orang tua, buku bacaan, dll). Tanpa motif hapir tidak mungkin siswa melakukan kegiatan belajar, karenanya motif memiliki peran yang cukup besar. Prinsip ini mengandung pengertian bahwa guru sebagai motivator hendaknya senantiasa memperhatikan motif-motif yang dapat mendorong siswa dalam proses belajar. Sehingga siswa dalam proses pembelajaran memiliki motivasi/semangat belajar yang tinggi, selain itu pula memiliki keseriusan, perhatian, kerajinan, kedisiplinan, keingintahuan, pencatatan, pertanyaan, senang melakukan latihan, serta sikap belajar yang positif. Dalam hal ini konsep “PAIKEM” (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) perlu diperhatikan dalam memotivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas.

Menurut R. Ibrahim dan Nana Syaodih S ada beberapa upaya yang dapat dilakukan guru untuk membangkitkan motivasi belajar siswa menggunakan cara atau metode dan media mengajar yang bervariasi memilih bahan yang menarik minat dan dibutuhkan siswa memberikan sasaran antara, misal ulangan harian, kuis, dll dari sasaran akhir lulus atau naik kelas memberikan kesempatan untuk sukses
ciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan adakan persaingan sehat.

 

Prinsip Reward dan Punishment

Prinsip ini bermakna bahwa dalam proses pembelajaran guru harus mempersiapkan adanya reward dan punishment, yang berfungsi sebagai salah satu alat untuk memotivasi siswa. Artinya jika siswa melakukan hal yang positif dalam pembelajaran, dia berhak mendapatkan hadiah (reward) demikian pula sebaliknya jika siswa melakukan hal yang negative maka perlu diberikan konsekuensi (punishment) yang membangun (positif).

 

Prinsip Repetisi

Sebuah materi akan tertanam dalam pikiran siswa jika diberikan secara berulang-ulang. Prinsip repetisi berarti dalam proses pembelajaran perlu ada pengulangan-pengulangan untuk lebih mematangkan/menanamkan konsep materi. Ini merupakan salah satu prinsip yang juga digunakan dalam dunia periklanan, mereka menciptakan kalimat-kalimat yang mengikat, mudah diingat, unik, lucu, dan disiarkan secara berulang-ulang dengan durasi waktu tertentu. Inilah yang dinamakan sebagai space repetition. Hasilnya, tanpa dimintapun kita dapat dengan mudah mengenali produk iklan hanya dari sepotong kata atau jinggle.

 

Prinsip Apersepsi

Pengajaran akan lebih efektif jika siswa mengalaminya, mampu melihat pola-polanya, mengetahui langkah-langkah selanjutnya atau sebelumnya. Maka apersepsi diperlukan untuk menunjukkan hubungan-hubungan tersebut. Prinsip apersepsi adalah menghubungkan kegiatan belajar yang akan dialami siswa dengan pengalaman siswa sebelumnya. Keterkaitan dengan materi sebelumnya, jika ada, ataupun berkaitan dengan peristiwa-peristiwa disekitar.

 

<!–[if !supportLists]–>10. <!–[endif]–>Prinsip Pengalaman langsung

Secara teoritis prinsip ini dilandasi oleh prinsip learning by doing yang diajukan oleh Dr. John Dewey. Prinsip ini berpijak pada asumsi bahwa para siswa akan mendapat lebih banyak pengalaman dengan keterlibatan secara aktif dan pribadi dibanding yang diperoleh dengan melihat atau menonton isi atau konsep, Menurut Dr. Oemar Hamalik, (1991:46) : Pengajaran dengan pendekatan baru menitikberatkan peran serta siswa dalam kegiatan belajar ( experimence-based intruction) dimana siswa berupaya mencapai tujuan-tujuan tingkah laku melalui pengalaman langsung. Pengajaran berdasarkan pengalaman menyediakan suatu alternatif pengalaman belajar bagi siswa yang lebih luas daripada pendekatan yang diarahkan oleh guru. Prinsip ini menyediakan banyak kesempatan belajar secara aktif, personalisasi, dan kegiatan belajar lainnya bagi para siswa untuk semua tingkatan usia. Pengajaran berdasarkan pengalaman memberikan kepada siswa serangkaian situasi pendidikan dalam bentuk keterlibatan pengalaman senyatanya, yang sengaja diciptakan guru. Prinsip ini akan membawa siswa ke dalam suasana alami yang memungkinkan melakukan eksplorasi dan penyelidikan dalam rangka memecahkan masalah atau mata pelajaran tertentu. Tujuan pendidikan yang hendak dicapai oleh prinsip ini adalah :

meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan para siswa melalui partisipasi aktif dalam belajar

menciptakan interaksi sosial positif untuk memperbaiki hubungan sosial di dalam kelas.

Prinsip ini mengandung pengertian bahwa dalam proses pembelajaran guru perlu mempersiapkan suatu kegiatan di mana siswa dapat merasakan bahwa pembelajaran dapat diperoleh dengan mencari pemahaman lewat pengalaman langsung.

 

 Prinsip Peragaan

Prinsip ini bermakna bahwa dalam proses pembelajaran guru kadangkala perlu mempersiapkan suatu kegiatan peragaan baik dalam bentuk demontrasi maupun simulasi. Peragaan ini dapat berupa suatu rangkaian percobaan, suatu model, cara menggunakan alat, atau suatu keterampilan tertentu. Diharapkan dengan menggunakan peraga dapat lebih mengembangkan kemampuan mengamati, menggolongkan, menarik kesimpulan, menerapkan dan mengkomunikasikan. Peragaan diperlukan untuk membantu siswa memahami peralihan dari konsep nyata ke konsep abstrak. Misalnya dalam pelajaran matematika, anak akan menemui banyak konsep abstrak, untuk mengetahui konsep bilangan maka diperlukan peragaan membilang dengan benda-benda yang nyata, benda yang bisa dilihat dan diraba.

 

12. Prinsip Korelasi

Prinsip ini bermakna bahwa dalam proses pembelajaran guru hendaknya mengkaitkan suatu bahan pelajaran dengan pelajaran lain baik dalam satu pelajaran yang bersangkutan maupun dengan mata pelajaran lainnya (lintas mata pelajaran). Dengan demikian, keterpaduan dalam pembahasan dan meninjauan akan membantu siswa memadukan apa yang didapat (diperoleh). Hendaknya siswa memperoleh keterkaitan bahan ajar yang akan dipelajari dengan materi berikutnya atau pada jenjang pendidikan selanjutnya, penunjang kemampuan untuk profesi tertentu, dan sebagainya.

 

 


13. Prinsip Evaluasi

Prinsip ini mengandung pengertian bahwa dalam proses pembelajaran seorang guru harus mempersiapkan suatu alat evaluasi dengan maksud untuk mendapatkan informasi tentang hasil pembelajaran. Fokus evaluasi pembelajaran adalah pada hasil, baik hasil yang berupa proses maupun produk. Informasi hasil pembelajaran ini kemudian dibandingkan dengan hasil pembelajaran yang diharapkan (ditetapkan). Dengan evaluasi maka diharapkan keberhasilan belajar siswa dapat terukur sehingga dapat dijadikan pertimbangan dan perkiraan kemajuan belajar siswa.

 

Kesimpulan

Perencanaan Pengajaran adalah pemikiran tentang penerapan prinsip- prinsip umum mengajar di dalam pelaksanaan tugas mengajar dalam suatu interaksi pengajaran tertentu yang khusus baik yang berlangsung di dalam kelas ataupun diluar

Di dalam melakukan pengajaran dan pembelajaran kita harus melakukan perencanaan terlebih dahulu agar dalam melakukan pembelajaran kita bisa melakukannya dengan sempurna, ada beberapa prinsip pembelajaran yang harus kita ketahui diantaranya adalah: Prinsip perkembangan, perbedaan individu, tujuan/kompetensi, persiapan, aktivitas siswa, motivasi siswa, reword dan punishment, repetisi, apersepsi, pengalaman langsung, peragaan, korelasi, dan evaluasi.

Saran

Seorang guru yang baik adalah guru yang selalu mempersiapkan dirinya sebelum memasuki kelas dan mempunyai perencanaan yang matang, mudah-mudahan makalah ini dapat menjadi bahan bacaan serta sebagai diskusi seluruh mahasiswa akta 4, mudah-mudahan akan banyak tambahan dan masukan dari rekan-rekan sekalian, untuk menyempurnakan pemikiran kita ke depan sebagai pendidik generasi bangsa ini.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

<!Crow, Lestar & Alice, Crow (1989), Pshychology Pendidikan, Yogyakarta: Nur Cahaya..

<!Hamalik,Oemar (1991), Pendekatan Baru Strategi Belajar-Mengajar Berdasarkan CBSA, Bandung: CV Sinar Baru.

Haryanto, perencanaan pengajaran, rineka cipta, Jakarta: 1997

Ibrahim, R. dan Syaodih, Nana S. (1996), Perencanaan Pengajaran, Jakarta: Rineka Cipta.

Nana Sudjana, pembinaan dan pengembangan kurikulum disekolah, sinar baru bandung: 1988

Sagala, Syaiful (2005), Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung: CV Alfabeta.

Syaodih, Nana S. (2005), Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

 

 

 

2 Respon untuk TUGAS

  1. bagus makalahnya…

  2. Bagus banget nieh!! kapan** di tambah lagi ya Makalahnya. maju terus!!!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s