winda

Konon di kaki gunung merapi di daerah tertua minangkabau tepatnya daerah Padang Panjang Pariangan, kecamatan simabur kabupaten batu sangkar pada tanggal 21 juni1985 lahir seorang gadis yang dengan senang hati disambut riuh keluarga dengan amat sangat suka cita, ayahanda memberi nama dengan WInda Fevlona yang sampai sekarang aku pun bingung mencari arti dari winda fevlona, yang konon katanya di ambil dari bahasa belanda (haha emang ada bahasa belanda begitu ya??)

Masuk sekolah  di SDN Inpres tentunya dengan mengeyam TK sebelumnya, dua tahun lamanya aku menikmati indahnya sekolah di pedesaan dan dengan kesederhaan fasilitas, aku meneruskan perjuangan belajarku ke pulau jawa tepatnya pinggiran kota jakarta, daerah pondok gede, aku melanjutkan ke SDN Kecapi III, berasal dari padang yang kemampuan bahasa indonesianya pas-pasan akhirnya aku bisa tetap berprestasi di sekolah baru, aku menduduki peringkat tiga besar.

Akhir kelas 6 aku menderita penyakit tipus yang sangat parah sehingga pada saat ujian akhir aku mengalami kondisi yang tidak bagus, namun karena kecintaan ku terhadap belajar dan pendidikan masuk sekolah dan menghadapi ujian adalah hal yang sangat menyenangkan dan membuat kondisi ku menjadi mambaik dari pada beristirahat di rumah dan tidak boleh keluar rumah, akhirnya aku pun lulus dengan hasil yang tidak mengecewakan dan aku bisa memasuki SMP favorit namun entah mengapa aku ingin sekali meneruskan ke pondok pesantren dan sama sekali tidak tertarik untuk masuk sekolah umum.

Dengan bekal informasi tetangga dan teman dekat aku mendapat satu nama pesantren daerah jakarta timur, lebih tepatnya adalah Pesantren Putri Al Kenaniyah, selanjutnya aku melanjutkan pendidikan di pesantren tersebut dan tanpa disangka aku bertemu dengan dua orang teman satu kelas ku di SD (tapi sayang sekali mereka berdua hanya bertahan 2 minggu di pesantren)

tepat kelas dua orang tuaku pindah ke padang karena kena dampak krisis moneter namun aku tetap bertahan di pesantren karena tanggung sampai  kelas tiga dan ada saudara yang akan mengunjungi ku…

Tak terasa aku sudah hampir menyelesaikan kelas 3 MTS dan akan segera menempuh ujian akhir, dengan semangat aku terus berjuang agar bisa memperoleh hasil terbaik, dan alhamdulillah aku lulus sebagai tamatan terbaik, setelah itu orang tua menganjurkan aku untuk tetap melanjutkan di pesantren ini namun karena bakti ku kepada beliau akhirnya aku melanjutkan di MA Al Kenaniyah, walaupun waktu itu aku juga bisa masuk di SMA negeri namun lagi-lagi takdir mangaharuskan aku untuk tetep di Al Kenaniyah..

Setelah selesai Aliyah aku mencoba mendaftaran diri di Universitas Damaskus yang ditawarkan oleh pimpinan pesantren, namun karena beberapa hal maka itu pun tidak jadi dan harapan ku untuk bisa mengenyam pendidikan di luar negeri pun kandas, akhirnya aku mencoba ujian SPMB memilih Universitas Indonesia yang merupakan universitas terbaik di negeri ini, namun lagi-lagi takdir berkata lain aku tidak lulus..

Akhirnya setelah bermusyawarah dengan orang tua aku memutuskan untuk melanjutkan di Universitas Islan Negeri jakarta (yang dulu disebut IAIN) dapat melanjutkan pendidikan di luar negeri adalah cita-cita ku, entah mengapa aku termasuk orang yang meyakini bahwa kualitas pendidikan di luar negeri lebih baik dari pada di Indonesia, dengan latra belakang tersebut akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan di UIN pada fakultas internasional kerja sama UIN dengan Al Azhar kairo yaitu fakultas Dirosah Islamiyyah….

aku sangat menikmati hari-hariku di fakultas ini, belajar setelah menjadi mahasiswa memang berbeda dengan saat waktu aku masih sekolah, kita harus lebih banyak belajar sendiri dan jangan pernah untuk tidak membaca buku sebelum kuliah….aku bener-bener merasakan bahwa ilmu itu adalah kebutuhan, belajar bukan lagi hanya kewajiban untuk mendapatkan peringkat kelas atau agar dapat naik kelas, tapi aku sudah mulai berpikir bahwa belajar ini adalah kebutuhan yang harus di penuhi dan akan merubah hidup kita….sehingga belajar bukan karena ada PR, belajar karena bukan hanya karena ada ujian, tapi saat jadi mahasiswa aku baru sadar belajar dan membaca buku itu adalah kebutuha.

Di akhir tahun pertama aku di fakultas dirosah islamiyyah aku mendapatkan hasil yang memuaskan IPK tidak pernah di bawah 3,walaupun sebetulnya aku merasa berat dan merasa sulit untuk mengikuti karena ternyata fakultas ini bertentangan dengan hati nuraniku ada hal-hal tertentu yang membuatku berfikir untuk pindah fakultas…..

Akhirnya aku putuskan untuk pindah fakultas pada tahun kedua aku kuliah di UIN, aku pindah ke fakultas syariah dan mengambil jurusan perbankan syariah..melihat bahwa perbankan syariah mempunyai yang prospek yang bagus kedepan…..

aku terpaksa mengulang kembali dari semester awal karena dari 46 SKS yang aku ambil hanya 12 SKS yang bisa dikonversi, namun aku menikmati kuliah di fakultas syariah walaupun kadang-kadang aku juga menyesal meninggalkan dirosal islamiyyah namun lagi-lagi ini adalah rencana Allah…

Empat tahun lamanya aku menyelesaikan kuliah di jurusan perbankan syariah akhirnya aku bisa menempuh ujian munaqosyah dan ujian komprehensip dengan baik pada umurku ke yangke 23 tahun bertepatan dengan tanggal 8 november 2008 maka aku syah mendapat gelar Sarjana Ekonomi Islam.

ya..begitulah sekilas tentang diriku…yang sebetulnya tidak akan habis untuk dibicarakan, pada saat ini aku sedang mengabdi pada almamaterku bertugas sebagai guru dan pengurus pondok pesantren putri al kenaniyah dan sedang menempuh kuliah akta 4 di IIQ dan sedang menuggu hasil ujian keluusan pasca sarjana UI..doakan semoga berhasil

dan semoga setiap langkah kita di ridhoi oleh Allah SWT…amiinn

12 Respon untuk winda

  1. Bicara tentang diri kadang adalah karena sadar diri atau tak tahu diri. Tapi jika bisa bermakna itu malah penularan jati diri (?), kalau tidak ya sekedar unjuk diri, ha ha..sory guyon aja…

  2. Assalamualaikum wr. wb.
    langsung saja, kalau kita berbicara tentang diri kita sebetulnya susah2 gampang karena kita inii manusia dloif sekali, dan tentunya kita tak bisa mengungkap keseluruhan apa yg ada dalam diri ini.
    susah dan berat untuk bercerita itu sendiri adalah dalil yg laten yg nunjukin bahwa kita ini tak punya kuasa penuh atas diri kita. (bukannya aku pro sama jabariyah) satu hal yg pasti ada ketika kita bercerita ttg diri kita adalah nimbrungnya nafsu kita. ( kita mudah menjadi ujub, riya dll) adalah obat dan penghapanku ketika kubaca “wa nahannafsa ani alhawa..fa inna aljanta hiya alma’wa” brg siapa yang bisa menahan hawa nafsu maka surga menjadi tempatnya…..idku di ym gak_elek_tenan
    mudah2an sedikit dariku ini bisa menjadi penerang hatimu.
    wassalamualaikum

  3. ass.wr.wb.
    pa kabar jeng… gimana kabar disana ? jadi pengen balik lagi deh… salam buat semua yach..

  4. salam kenal…
    mampir dari jalan2

  5. wow… cerita yang panjang dan mengasyikkan, winda fevlona….. keren juga ya bahasa belanda….

    semoga sukses… salam kenal dari choirul huda

  6. urang awak rupanya, alumni UIN jakarta juga kah??
    sama donk dg saya, tapi jurusannya beda…

  7. Wuuiih… perjuangan banget ye, Alhamdulillah semuenye lancar pan, berkat i’tikad yang tinggi *saluut buat elo kawan* :)

    moga semue urusan lo dilancarkan Allah swt ^_^ aamiin

  8. makasih nay…..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s