Internet Masuk Pesantren

Ketika Internet Masuk Pesantren

Jumat, 02 Mei 2008
Sebagian kiai sempat alergi karena pemberi bantuan adalah Amerika. Pada 7-9 April lalu, International Center for Islam and Pluralism bersama Ford Foundation meluncurkan program Open Distance E-Learning (ODEL) Pesantren. ICIP mengaplikasikan e-learning pada delapan pesantren di Jawa, di antaranya Al-Kenaniyah (Jakarta Timur), An-Nizhomiyah (Pandeglang), Miftahul Huda Al-Musri (Cianjur), Hasyim Asyari (Jepara), Raudhatul Falah (Rembang), Nurul Islam (Jember), dan Nurul Jadid (Probolinggo). Tulisan ini ingin memotret dari dekat program tersebut. Sejak setahun terakhir, Encep punya kegemaran baru di sela-sela kesibukannya mempelajari kitab-kitab kuning. Setiap Senin, Kamis, dan Jumat, selama 2-3 jam waktunya dihabiskan santri program paket C di Pesantren Miftahul Huda Al-Musri, Cianjur, itu untuk berselancar di dunia maya.

Selain asyik membuka-buka halaman ilmu falak, nautika, dan astronomi, belakangan ia rajin mencari info seputar beasiswa. Encep ingin kuliah di Al-Azhar, Kairo, Mesir. “Biar seperti Fahri (tokoh dalam novel Ayat-ayat Cinta),” ujarnya sambil tertawa kecil.

Pesantren yang berdiri pada 1959 itu tergolong terbuka terhadap inovasi. Alat canggih seperti komputer telah bertahun-tahun membantu pekerjaan administrasi para kiai dan santri di sana. Namun, ketika International Center for Islam and Pluralism (ICIP) menawarkan bantuan jaringan Internet, sebagian kiai langsung menggeleng. Kekhawatiran bukan karena banyaknya informasi sampah di Internet, tapi lebih bersifat politik. Sebab, ICIP menawarkan bantuan itu atas kerja sama dengan Ford Foundation. “Sebagian anggota Dewan Kiai yang berjumlah 13 orang masih alergi dengan hal-hal yang berbau Amerika,” kata Ketua Dewan Kiai, Syaiful Uyun.

Setelah berdebat panjang, keputusan diambil lewat voting. “Saya katakan, jika manfaatnya tak sebanding dengan kerugian, ya diakhiri saja nantinya,” kata Syaiful. Ternyata, setelah beberapa bulan berjalan, para kiai maupun santri merasakan benar manfaat Internet, sebab berbagai perpustakaan terkemuka di Timur Tengah dapat diakses dengan gratis. Begitu juga dengan kitab-kitab yang harganya ratusan ribu hingga jutaan rupiah, kata Syaiful, “Semuanya tinggal klik.”

Program Internet masuk pesantren ini, dimaksudkan ICIP untuk mengatasi keterbatasan akses masyarakat atas pendidikan. Kenapa pesantren? Karena, menurut Direktur Eksekutif ICIP M. Syafii Anwar, lembaga pendidikan Islam ini merupakan yang tertua dalam sejarah Indonesia. “Sejarah menunjukkan pesantren mampu menjadi agen perubahan sosial.” Pendidikan jarak jauh berbasis Internet ini dinamai Open, Distance and E-Learning (ODEL). Program ini, kata Syafii, diharapkan memberi manfaat bagi masyarakat sekeliling pesantren yang putus sekolah. “Mereka yang DO (drop out) dapat melanjutkan pendidikan kesetaraan melalui paket B dan C.”

Selain Al-Musri, total ada delapan pesantren yang menjadi proyek percontohan ODEL, yakni An-Nizhomiyah (Pandeglang, Banten), Al-Kenaniyah (Jakarta), Al-Mizan (Majalengka), Hasyim Asyari (Jepara), Raudatul Falah (Rembang), Nurul Jadid (Probolinggo), dan Nurul Islam (Jember).

Di Al-Musri, misalnya, ICIP memberikan bantuan 20 komputer. Selain membina 605 santri, juga memberikan program paket B (setara SMP) yang diikuti 102 orang, dan 122 orang untuk paket C (setara SMA). Meski pesantren salafi (khusus mempelajari kitab kuning), para santri beserta warga sekitar turut mendapatkan keterampilan di bidang agribisnis di atas lahan seluas 2 hektare.

Di Kenaniyah yang terletak di daerah Kayu Putih, Jakarta Timur, yang padat penduduk, program ini belum mendapat respons memadai dari warga sekitar pesantren. Warga merasa mengikuti program paket B atau C hanya akan membuang pendapatan mereka. “Dengan lima jam belajar, sudah dapat 50 ribu, dan mereka tidak bisa menambah pendapatan dengan hilangnya waktu untuk belajar di pesantren,” ujar Syafii. Karena itu, pelaksanaan program akan diintensifkan sesuai dengan tahun ajaran baru Juli nanti.

Para santri pun lebih suka menggunakan fasilitas Internet untuk berkomunikasi dengan teman melalui chatting, Friendster, atau shopping online. Teman saya di Friendster sudah hampir 300,” ujar Ismi Amalia, 14 tahun, santri asal Bandung. Gadis kelas IX Tsanawiyah ini mengaku pernah melihat situs porno yang tidak sengaja terbuka ketika berselancar. “Rasa penasaran sih ada, tapi saya buru-buru ditutup,” kata Ismi.

As’ad Saiin Alim, siswa kelas X Ilmu Pengetahuan Sosial pun mengaku sesekali suka chatting di tengah keasyikannya mencari berita olahraga. “Kalau Friendster, teman saya baru sedikit,” katanya malu-malu. Sudrajat | Dianing Sari

Koran Tempo
Senin, 28 April 2008

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s